Oleh drg. Ermada Parselina

Adakah penderita HIV/AIDS atau Hepatitis disekitar anda?
Haruskah kita khawatir jika kita ke dokter gigi, alat-alat yang digunakan tidak akan menularkan virus tersebut?
Sebelum itu apa sih pengertian dari HIV/AIDS dan Hepatitis?

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Jika tidak segera mendapatkan penanganan, virus ini akan menyebabkan penyakit AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). Tidak seperti virus yang lain, sekali terkena virus HIV ini, maka seumur hidup akan ada di dalam tubuh kita, akan semakin memburuk tahun demi tahun, dan hingga sekarang masih belum ada obatnya
HIV menyerang sistem kekebalan tubuh kita, yang mana seseorang akan lebih rentan terhadap infeksi atau bahkan infeksi yang dapat berujung pada kanker. (Hernández-Ramírez RU. Cancer risk in HIV-infected people in the USA from 1996 to 2012: a population-based, registry-linkage study, 2017)
Ketika sistem kekebalan tubuh kita sudah banyak yang rusak, tubuh tidak bisa melawan infeksi dan penyakit sama sekali. Maka penyakit yang seharusnya ringan misalnya influenza, dapat menjadi ancaman berbahaya bagi tubuh, karena tubuh tidak dapat segera melawan virus influenza tersebut. Keadaan ini menandakan bahwa orang tersebut sudah terkena AIDS, stadium akhir dari infeksi HIV, dimana tubuh sudah tidak dapat melakukan perlawanan terhadap segala macam penyakit.
Penyebaran penyakit HIV/AIDS di Indonesia pun sudah mulai tinggi.

Sebanyak 30% penyebaran berada di Jakarta, mungkin bisa karena memang jumlah penduduk yang tinggi, dan kurangnya sosialisasi tentang penyakit ini.

Sudah membahas tentang HIV/AIDS, sekarang mari kita bahas tentang penyakit hepatitis.
Hepatitis adalah sel-sel pada organ liver yang mengalami peradangan dan karena peradangan tersebut, lama kelamaan fungsi liver pun dapat terganggu.
Organ liver ini memiliki fungsi mendetoksifikasi darah, menyimpan vitamin, dan memproduksi hormon. Penyakit hepatitis dapat mengganggu proses tersebut dan mengakibatkan beberapa penyakit diseluruh tubuh.
Ada 3 tipe utama yang paling sering ditemukan yaitu Hepatitis A, B dan C. Masing-masing disebabkan oleh virus yang berbeda-beda. Tipe Hepatitis yang paling menakutkan, selamanya menetap dalam tubuh dan bisa menyebabkan kanker adalah Hepatitis tipe B dan C (Cabibbo, G.; Craxi, A. Epidemiology, risk factors and surveillance of hepatocellular carcinoma, 2010)

Organ liver orang yang terkena Hepatitis B dan C akan membengkak dan mengalami beberapa kerusakan. Jaringan sehat yang rusak pada organ liver ini akan digantikan dengan jaringan parut (Sirosis hati). Jaringan parut akan menghambat aliran darah yang melewati liver, sehingga kinerja hati akan terganggu atau bahkan terhenti. Kondisi ini tidak dapat diperbaiki / permanen dan bahkan bisa menyebar lebih luas, dan menyebabkan hati tidak dapat berfungsi dengan baik. Tidak menutup kemungkinan bahwa kondisi seperti ini, juga dapat memicu terjadinya kanker yang biasa disebut Hepatocelluler carcinoma.

Persamaan dari kedua penyakit ini adalah cara penularan dan merupakan penyakit yang sekali terkena maka seumur hidup akan ada di tubuh anda, karena hingga sekarang belum ditemukan cara penyembuhannya.
Cara penularan penyakit HIV/AIDS dan Hepatitis ini adalah melalui:
– Penggunaan alat-alat pribadi bersamaan dengan orang yang terinfeksi, seperti sikat gigi atau alat cukur.
– Tergigit seorang penderita
– Berhubungan badan dengan penderita, tanpa pengaman
– Tertusuk benda tajam yang tidak di steril (bekas orang yang terinfeksi AIDS/ Hepatitis) digunakan untuk memeriksa penderita, sebagai contoh pekerja medis yang bekerja dengan benda-benda tajam
– Penggunaan jarum untuk tattoo yang tidak steril
– Penggunaan jarum secara bergantian dengan penderita, sering terjadi pada kasus penggunaan obat terlarang atau pengguna steroid.

 

Dan masih banyak lagi cara yang dapat menularkan penyakit tersebut pada orang lain.
Bagaimana dengan alat-alat dokter gigi?

Apakah anda pernah terfikirkan, apa sudah benar-benar steril alat-alat yang dipakai?
Hanya sekedar bersih atau sudah benar-benar steril?
Mari kita lebih mengenal mengenai sterilisasi. Sterilisasi adalah proses menghilangkan atau membunuh semua mikroorganisme, termasuk spora-spora bakteri dan virus yang susah untuk dihilangkan hanya dengan suhu yang tinggi.
Berdasarkan jurnal dari American Dental Association (ADA) semua alat yang berkontak dengan pasien harus di sterilkan dengan menggunakan alat bertekanan tinggi (autoclave) atau dry heat. Sebelum disterilisasi, alat harus dibersihkan dan direndam terlebih dahulu menggunakan cairan desinfektan, untuk membunuh mikroorganisme yang melekat pada alat yang digunakan. Pembersihan dan perendaman ini harus segera dilakukan setelah digunakan karena untuk mencegah debris dan sisa-sisa kotoran mengering dan melekat pada alat. Setelah direndam menggunakan cairan desinfektan, dapat digunakan alat Ultrasonic Cleaners.

Cara kerja Ultrasonic cleaner ini adalah membersihkan dengan menggunakan gelombang ultrasonic sehingga kotoran yang menempel sudah bisa hilang tanpa perlu disikat ataupun dikeruk. Apakah sampai di sini sudah selesai? Sudah bersih sih… tapi belum cukup steril untuk tidak menularkan penyakit pada anda. Setelah pembersihan dengan ultrasonic selesai, alat-alat diwrapping atau dimasukan ke dalam medipack, untuk selanjutnya dilanjutkan dengan sterilisasi bertekanan tinggi (autoclave).

Autoclave adalah mesin yang digunakan untuk membunuh bakteri dan virus yang berbahaya (biohazard virus). Biohazard sendiri adalah singkatan dari Biological Hazard yang berarti bahaya biologi. Istilah ini teristimewa hanya pada virus-virus yang tingkat bahayanya hingga level 4 (Centers for Disease Control and Prevention, “Information on the survivability of the Ebola virus in Medical Waste”, 2015). Penentuan level ini berdasarkan tingkat penggandaan virus atau seberapa cepat virus itu berkembang biak. Sebagai contoh virus HIV termasuk pada virus level 2, yang berarti virus HIV akan terbunuh dengan autoclave, karena autoclave mampu membunuh virus hingga virus level 4 (ex. virus Ebola).


Perbedaan autoclave dengan dry heat adalah dry heat hanya dapat membunuh mikroorganisme dan bakteri saja, namun tidak dapat membunuh virus. Dan untuk mendapatkan hasil sterilisasi yang maksimal, dry heat memerlukan suhu yang lebih tinggi, dan waktu yang lebih lama. Sebagai contoh, autoclave hanya membutuhkan suhu 120°C selama 15 menit untuk membunuh virus dan bakteri, namun dry heat membutuhkan suhu 170°C selama 1 jam dan belum bisa untuk membunuh virus seperti HIV/AIDS dan hepatitis..


Menurut jurnal yang ditulis oleh Centers for Disease Control and Prevention, autoclave adalah alat sterilisasi yang paling bisa diandalkan sterilitasnya dan paling efektif untuk membunuh mikroorganisme, bakteri dan virus, dibandingkan alat sterilisasi yang lain.
Setelah mengetahui macam-macam cara sterilisasi, apakah anda pernah memperhatikan peralatan yang digunakan oleh dokter gigi maupun dokter umum?
Pasien berhak untuk mengetahui bagaimana cara sterilisasi alat-alat yang akan digunakan untuk memeriksa, dan pasien juga berhak mendapatkan kebersihan dan sterilitas yang maksimal dari perawatan yang akan dilakukan.

Lebih cermat lah untuk memperhatikan kebersihan dan sterilitas yang diberikan oleh fasilitas kesehatan yang ada disekitar anda.
Jangan karena suatu perawatan nampak lebih murah, lalu tergiur dengan harganya ternyata dampak yang akan didapat justru malah berkepanjangan. Dan membuat anda menyesal seumur hidup, karena penyakit yang anda dapatkan permanen dan belum ada obatnya hingga sekarang. Ingat, penyakit yang ditularkan melalui peralatan tersebut, akan terus berada di dalam tubuh lho, sampai seumur hidup. Apakah sepadan? Harga dan resiko yang harus ditanggung?

Leave a comment