Share to Others People

Fraktur gigi merupakan lepasnya atau hilangnya fragmen dari suatu gigi utuh. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh benturan atau trauma pada wajah atau gigi geligi, seperti saat olahraga yang perlu kontak fisik atau karena suatu kecelakaan. Pada umumnya, fraktur gigi yang kecil tidak sampai menyebabkan terjadinya pergeseran gigi maupun perdarahan dari gusi. Seseorang yang mengalami kondisi seperti ini cenderung tidak mengalami rasa sakit. Namun pada kasus yang berat, dimana sebagian besar gigi pecah sehingga bagian dentin dan jaringan pulpa terekspos dapat menyebabkan rasa sakit yang akut dan terjadi kerusakan pada syaraf. Untungnya, pada kondisi ini tidak membahayakan jiwa dan prosedur perawatan syaraf gigi termasuk salah satu alternatif untuk dapat menyelamatkan gigi yang fraktur tersebut

Fraktur gigi dapat terjadi pada gigi manapun, tetapi lebih cenderung pada gigi anterior / gigi depan. Gigi anterior memegang peran penting dalam estetika seseorang. Sehingga dibutuhkan teknik yang maksimal agar hasil yang didapatkan sesuai dengan keinginan pasien. Pada umumnya, pasien penderita fraktur gigi datang ke dokter gigi dengan dua motivasi, yakni :

  1. Untuk menyembuhkan atau menghilangkan rasa sakit pada gigi yang fraktur.
  2. Membenahi fungsi estetika yang terganggu akibat gigi patah / fraktur.

ANH7AF

Penyebab Fraktur Gigi :

1. Jatuh dan benturan.

Sering terjadi pada anak – anak dan orang tua. Seperti jatuh dari tangga, di garasi, teras, dan anak – anak pada area bermain.

2. Berolahraga.

Olahraga juga dapat beresiko tinggi menyebabkan fraktur gigi, seperti pada cabang olahraga American football, rugby, skating, hockey, dll. Olah raga yang beresiko medium, seperti gymnastic, menyelam, basket, dll.

3. Kecelakaan lalu lintas.

Baik pejalan kaki, sepeda, dan mobil / motor. Trauma disini didominasi oleh multiple dental injuri, meliputi tulang pendukung, jaringan lunak, bibir, dan dagu.

4. Penggunaan gigi yang tidak sesuai

GAMBAR 3

 

Contohnya adalah menggigit pulpen, membuka bungkus makanan, menggigit es batu, memotong atau memegang barang dengan gigi, dll.

5. Menggigit benda keras.

Trauma dapat terjadi pada pasien pemakai tindikan pada lidah dan oral. Tindikan telah dilaporkan dapat mengakibatkan frakturnya suatu gigi dan restorasi, kerusakan pulpa, gigi yang retak, dan abrasi gigi.

6. Penyiksaan fisik

GAMBAR 4

Penyiksaan dan pemukulan terhadap anak atau orang sering mengakibatkan terjadinya trauma. Pasien – pasien tersebut dibawa ke rumah sakit karena trauma fasial. Penyembuhan fraktur multipel pada gigi atau rahang, terutama dengan tahapan penyembuhan yang berbeda dapat menjadi tanda terjadinya suatu penyiksaan. Pukulan yang dilakukan saat berkelahi pun termasuk kedalam kategori ini dan sering mengakibatkan kegoyangan, avulsi, atau fraktur gigi dan laserasi jaringan lunak.

 

Perawatan fraktur Mahkota dan Akar

Secara garis besar, fraktur gigi dibedakan menjadi dua, fraktur mahkota gigi dan fraktur akar gigi. Untuk langkah – langkah perawatan yang harus dilakukan agar dapat memperbaiki fraktur tersebut sehingga gigi bisa berfungsi kembali dengan normal.

  1. Fraktur mahkota gigi

Tergantung jaringan gigi yang terlihat, diantaranya:

  • Fraktur Email

GAMBAR 5

Yang dimaksud dengan fraktur email disini adalah fraktur yang mengenai lapisan email saja dan tidak mengenai jaringan gigi yang lebih dalam seperti dentin maupun pulpa. Sebenarnya kasus ini memiliki prognosis yang baik. Namun tidak memungkinkan timbulnya pergeseran letak gigi (luksasi).

Perawatan yang dapat diberikan antara lain dengan menghaluskan bagian email yang kasar akibat fraktur tersebut atau dengan memperbaiki struktur gigi tersebut.

 

  • Fraktur Makhota dengan Pulpa Masih Tertutup / Fraktur Dentin.

GAMBAR 6

Fraktur ini mengenai jaringan gigi yang lebih dalam, tidak hanya sebatas pada email namun juga sudah mengenai dentin namun ulpa masih terlindungi.

 

Perawatan yang bisa dilakukan adalah

  1. Menggunakan material komposit untuk mengembalikan struktur gigi
  2. Menggunakan cara yang lebih konservatif lagi yakni menempelkan kembali fragmen fraktur tersebut pada jaringan gigi setelah sebelumnya dilakukan etsa asam dan dengan bantuan bonding agent.

 

  • Fraktur Mahkota dengan Pulpa Terbuka.

Fraktur jenis ini adalah tipe fraktur yang bisa dikatakan complicated, karena fraktur melibatkan daerah email, dentin dan juga pulpa. Perawatannya pun agak sedikit berbeda dan tidak sesederhana dua kasus di atas. Hal lain yang harus diperhatikan saat menangani kasus ini adalah maturasi gigi, ini penting untuk menentukan apakah apeks gigi sudah menutup sempurna atau belum karena akan membedakan langkah perawatan yang akan diberikan.

 

  1. Gigi dengan apeks yang masih terbuka.

Kondisi ini sangat tidak memungkinkan dilakukan pulpektomi, karena dinding akar masih tipis, vitalitas gigi harus tetap dipertahankan demi kelangsungan hidup gigi selanjutnya. Hal yang bisa dilakukan pada tahap ini adalah dengan melakukan pulpotomi dangkal dengan formokresol.

 

  1. Gigi dengan apeks yang sudah menutup sempurna.

Perawatan yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan pulpektomi disertai dengan perawatan saluran akar. Perawatan saluran akar biasanya dilakukan jika fraktur yang terjadi sudah mencapai daerah margin ginggiva dan diperlukan pembuatan mahkota pasak dan inti. Perawatan saluran akar tentunya akan sangat membantu sebagai tahap persiapan.

Lain halnya jika fraktur dengan pulpa terbuka ini terjadi pada gigi sulung. Ada dua hal yang diindikasikan yakni pencabutan dan pulpotomi. Semua ini bergantung pada usia pasien, jika setengah bagian apeks sudah resorpsi maka pencabutan adalah indikasi utama. Namun, jika akar belum mengalami resorpsi bisa dilakukan perawatan saluran akar.

 

  1. Fraktur Mahkota dengan pulpa nekrotik dan terbuka.

Perawatan untuk kasus seperti ini juga dibedakan berdasarkan keadaan diderah apeks, jika apeks sudah tertutup maka perawatannya sama seperti perawatan abses alveolar akut. 

 

  1. Fraktur Akar

GAMBAR 7

Fraktur pada akar tidak selalu memerlukan perawatan saluran akar, hal terpenting yang harus dilakukan adalah dengan menempatkan kembali segmen koronal dan distabilkan dengan splin (alat yang digunakan untuk menstabilkan atau mengencangkan gigi – gigi yang goyang) selama kurang lebih 12 minggu. Kemudian pasien diminta datang untuk melakukan pemeriksaan apakah fraktur sudah membaik serta mengetahui kevitalan pulpa.

Fraktur akar dapat dibedakan dari arah fraktur, diantaranya :

  1. Fraktur akar gigi horizontal : dimana arah frakturnya memotong akar gigi seperti fraktur sepertiga apicval, sepertiga pertengahan dan sepertiga vertikal.
  2. Fraktur akar gigi vertical : dimana arah fraktur sejajar dengan akar gigi.

 

 


Share to Others People

Leave a comment

Copyright © 2000. Shiny Smile Dental Clinic.

Follow Us

logo-fb
logo-ig
logo-yt
logo-email
logo-wa

Copyright © 2000. Shiny Smile Dental Clinic.

Follow Us

logo-fb
logo-ig
logo-yt
logo-email
logo-wa